Setiap
mendengar kata kimia, hampir sebagian besar orang mengaggap bahwa pelajaran
kimia itu susah. Hal ini dikarenakan ilmu kimia secara detail baru dikenalkan
ketika SMA sehingga banyak hal yang perlu dipelajari secara lebih dibandingkan
mata pelajaran yang lain atau bisa juga
karena factor guru yang kurang bisa memotivasi siswa agar bisa belajar
dan menyerap ilmu kimia yang diberikan secara menyeluruh.
Saat
ini kurikulum yang berlaku di Indonesia menuntut siswa lebih aktiv, kreatif,
inovatif dan mampu mengikuti pelajaran dengan antusisme yang tinggi. Selain
suasana kelas yang kondusif diperlukan pula motivasi yang kuat untuk
mempelajari pelajaran kimia yang dianggap momok bagi sebagian besar siswa.
Untuk
membuat suasana menjadi kondusif, peran guru sangat diperlukan dalam mewujudkan
keadaan kelas yang nyaman dan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Fakta
yang ada di sekitar kita, sebagian guru kimia mengemas pembelajaran kimia
dengan metode yang kurang menarik sehingga siswa cenderung untuk tidak
memperhatikan dan melakukan kegiatan lain dibanding mendengarkan penjelasan
guru. Jika sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan guru? Pertama yaitu
melakukan perencanaan pembelajaran semenarik mungkin. Agar pembelajaran di
kelas lebih menarik, seorang guru bisa menerapkan model- model pembelajaran
yang sudah diterapkan oleh guru lain yang sudah lebih dulu berhasil dengan
model pembelajaran tersebut. Tetapi seorang guru tidak bisa serta merta menerapkan
model pembeljajaran tersebut karena guru harus melihat terlebih dahulu karakteristik
siswa dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Oleh karena itu perlu adanya
pengembangan pembelajaran.
Menurut Sutiman dalam Diktat kuliah Strategi
Pembelajaran Kimia, Pengembangan pembelajaran adalah proses kegiatan secara
matematik yang meliputi kegiatan-kegiatan mempelajari masalah pembelajaran,
mengidentifikasi, merencanakan, mengembangkan, mengevaluasi sehingga
menghasilkan suatu system pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu. Sedangkan model pengembangan pembelajaran adalah seperangkat prosedur
yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan pembelajaran. (Sutiman,2011:35)
Ada
beberapa model pengembangan pembeljaran, misalnya , model Kemp, model Dick and Carey,
model IDI, model PPSI, model SAFE, dan model Banathy. Terdapat tiga macam kegiatan pokok pada model tersebut,
yaitu:
1.
Membantu memecahkan masalah pendidikan
dan mengorganisasikan alat untuk i memecahkan masalah terebut.
2.
Membantu menganalisis dan mengembangkan
pemecahan masalah
3. Melayani
keperluan evaluasi pemecahan masalah tersebut.
Semua
model pembelajaran pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mempermudah
penerimaan suatu bahan ajar kepada siswa. Hanya saja sebagai seorang guru
sebaiknya bisa memilah, memodifikasi, dan menerapkan pembelajaran yang menarik
dan inovatif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kecanggihan
teknologi serta karakteristik peserta didik yang semakin kompleks.
Pengembangan
program pengajaran dengan pendekatan system dalam bentuk Satuan Pelajaran
diharapkan dapat mendukung perbaikan antara lain dalam usaha untuk:
1.
Mengubah cara mengajar secara
tradisional yang umumnya menekankan pada “berceritera” dan “mendengarkan”
(komunikasi satu arah) menjadi cara mengajar yang memberikan kesempatan siswa
untuk terlibat dalam proses belajar (belajar aktif).
2.
Mengubah rasa enggan menggunakan media,
menjadi suatu kebiasaan menggunakan media secara efektif. (Mulyati Arifin,
1995:23).
JOYFUL LEARNING DENGAN METODE PENGAJARAN DAN
PEMBELAJARAN BERBASIS KEMAMPUAN OTAK
Kesan
pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Pernyataan ini benar
adanya. Apalagi bagi seorang guru yang baru memasuki kelas pertama kali. Guru
diibaratkan seperti makcomblang ilmu. Kenapa makcomblang? Itu karena guru dapat
mempersatukan antara siswa dan ilmu. Guru hanya sebagai sarana untuk
mempercepat sampainya ilmu tetapi tetap siswa lah yang harus aktif memahaminya
sendiri.
1. Peran Guru
Guru
memiliki peranan yang sangat penting di dalam suatu kegiatan pembelajaran di
kelas. Dimana seorang guru harus memiliki syarat komptensi yang wajib dimiliki.
Menurut Undang-Undang omor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 10
undang-undang tersebut disebutkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi
pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi social, dan kompetensi
professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
a. Kompetensi
pedagogic
Adalah
kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik di sekolah dalam mengelola
interaksi pembelajaran bagi peserta didik. Kompetensi pedagogic ini mencakup:
pemahaman dan pengembangan potensi peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran, serta system evaluasi pembelajaran. kompetensi ini diukur dengan performance test atau episodes terstruktur dalam Praktek Pengalaman Lapangan
(PPL), dan case based test yang dilakukan secara tertulis.
b. Kompetensi
kepribadian
adalah
kemampuan yang harus dimiliki pendidik di sekolah yang berupa kepribadian yang
mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta
didik. Kompetensi kepribadian ini mencakup kemantapan pribadi dan akhlak mulia,
kedewasaan dan kearifan, serta keteladanan dan kewibawaan. Kompetensi ini bisa
diukur dengan alat ukur portofolio guru/calon guru, tes kepribadian/potensi.
c. Kompetensi
professional
Adalah
kemampuan yang harus dimiliki seorang pendidik di sekolah berupa penguasaan
materi pelajaran secara luas dan mendalam. Dalam hal ini mencakup penguasaan
materi keilmuan, penguasaan kurikulum dan silabus sekolah, metode khusus
pembelajaran bidang studi, dan wawasan etika dan pengembangan profesi.
Kompetensi ini diukur dengan tertulis, baik multiple
choice maupun essay.
d. Kompetensi
social
Adalah
kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik di sekolah efektif dan efisien
dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali, peserta didik, dan
masyarakat sekitar. Kompetensi ini diukur dengan portofolio kegiatan, prestasi
dan keterlibatan dalam berbagai aktivitas. (Arif Rohman, 2009:152-153)
Kompetensi
di atas memang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru. Tetapi untuk menjadi
seorang guru idaman tidak cukup hanya bermodalkan penguasaan materi yang di
luar kepala, melainkan kemampuan komunikasi yang apik juga sangat dibutuhkan.
Siswa lebih cenderung menyukai tipikal guru yang humoris dan dapat menjadi
motivator bagi siswa. Ingat pendidik itu berperan sebagai peningkat memori,
bukan hanya sebagai dispenser informasi. Jadi komunikasi dan katalisator semangat jauh
lebih penting.
Sekarang
ini, riset-riset tentang pencitraan otak dan pemetaan otak telah berkembang sampai
melampaui batas-batas pengkajian medis dan penyakit-penyakit psikologis dan
telah membukakan jendela untuk melongok ke dalam otak. Sekarang ini kita bisa
melihat bagaimana aktivitas otak sebagai informasi dari indera yang dikategorikan dan diorganisasikan menjadi pekerjaan,
jaringan yag saling terkait, dan terutama memori-memori jangka panjang. Para
pendidik sekarang bisa mengaitkan berbagai penemuan yang sangat hebat dari
riset tantang otak ketika sedang belajar di dalam kelas dan di dalam kurikulum
yang menggunakan strategi-strategi pembelajaran berbasis-riset untuk membantu
siswa lebih efektif dan menyenangkan. (Judy Willis, 2011:ix)
Sekolah
sebagai salah satu kekuatan besar dalam menciptakan agen perubahan perlu
ditangani oleh guru-guru yang andal. Sekolah memerlukan guru yang berkualitas,
professional, dan mempunyai visi yang jauh akan perkembangan sumber daya
manusia yang akan datang. Dengan demikian, seorang guru itu dapat menjadikan
mereka sebagai generasi yang hebat dan mampu menjadi generasi rahmatan lil’alamin. Mereka pun akan
menjadi manusia-manusia berkualitas, unggul, dan berdaya tahan tinggi dalam
menghadapi perubahan. Anak-anak adalah calon pewaris bangsanya. Dalam proses transferring values and knowledge, guru
yang baik akan senantiasa mengajar dan berkomunikasi kepada anak-anak, dan
bukan sekadar berkomunikasi terhadap mereka.
Lalu,
bagaimana ciri-ciri guru yang kreatif dan professional itu?
1.
Fleksibel
Dibutuhkan guru yang
tidak kaku, luwes, dan dapat memahami kondisi anak didik, memahami cara belajar
mereka, serta mampu mendekati anak didik melalui berbagai cara sesuai
kecerdasan dan potensi masing-masing anak.
2.
Optimis
Keyakinan yang tinggi
akan kemampuan pribadi dan keyakinan akan perubahan anak didik kea rah yang
lebih baik melalui proses interaksi guru guru-murid yang fun akan menumbuhkan karakter yang sama terhadap anak tersebut
3.
Respek
Rasa hormat yang
senantiasa ditumbuhkan di depan anak didik akan dapat memicu dan memacu mereka
untuk lebih cepat tidak sekadar memahami pelajaran, namun juga pemahaman yang
menyeluruh tentang berbagai hal yang dipelajarinya.
4.
Cekatan
Anak-anak berkarakter
dinamis, aktif, eksploratif, ekspresif , kreatif, dan penuh inisiatif. Kondisi
ini perlu diimbangi sehingga sesuai kondisi yang ada
5.
Humoris
Menjadi guru killer? Anak-anak malah takut dan tidak
mau belajar. Meskipun setiap orang memiliki sifat humoris, sifat ini dituntut
untuk dimiliki seorang pengajar. Karena pada umumnya, anak-anak suka sekali
dengan proses belajar yang menyenangkan, termasuk dinumbui dengan humor. Secara
tidak langsung, hal tersebut dapat membantu mengaktifkan kinerja otak kanan
mereka.
6.
Inspiratif
Meskipun ada panduan
kurikulum yang mengharuskan semua peserta didik mengikutinya, guru harus
menemukan banyak ide dari hal-hal baru yyang positif di luar kurikulum. Ia
dapat membuat anak didik terinspirasi untuk menemukan hal-hal baru dan lebih
memahami informasi-informasi pengetahuan yang disampaikan gurunya.
7.
Lembut
Di mana pun, guru yang
bersikap kasar, kaku, atau emosional, biasanya mengakibatkan dampak buruk bagi
peserta didiknya, dan sering tidak berhasil dalam proses mengajar kepada anak
didik. Pengaruh kesabaran, kelembutan, dan rasa kasih sayang akan lebih efektif
dalam proses belajar mengajar dan lebih memudahkan munculnya solusi atas
berbagai masalah yang muncul.
8.
Disiplin
disiplin disini tidak
hanya soal ketepatan waktu, tapi mencakup berbagai hal lain. Sehingga, guru
mampu menjadi teladan kedisiplinan tanpa harus sering mengatakan tentang
pentingnya disiplin.
9.
Responsive
Cirri guru yang
professional, antara lain cepat tanggap terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi, baik pada anak didik, budaya, social, ilmu pengetahuan maupun
teknologi, dan lain-lain.
10. Empatik
Setiap anak mempunyai
karakter yang berbeda-beda, cara belajar dan proses penerimaan, serta pemahaman
terhadappelajaran pun berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang guru dituntut
mempunyai kesabaran lebih dalam memahami keberagaman tersebut sehingga bisa
lebih memahami kebutuhan-kebutuhan belajar mereka.
11. Nge-friend
Jangan membuat jarak yang lebar
dengan anak didik hanya karena berposisi sebagai guru. Jika kita dapat menjadi
teman mereka akan menghasilkan emosi yang lebih kuat daripada sekadar hubungan
guru-murid. Sehingga, anak-anak akan lebih mudah bradaptasi dalam menerima
pelajaran dan bersosialisasi dengan lingkungannya. (Andi Yudha Asfandiyar, 2009:19-25)
Iklim
kelas yang positif dan dinamika kelas yang positif sangatlah penting untuk
terwujudnya lingkungan pembelajaran yang positif. Mengembangkan dan kemudian
mempertahankan lingkungan pembelajaran yang demikian adalah tantangan yang
kompleks. Tidak ada satu strategi yang akan memastikan keberhasilan di segala
situasi. Namun, periset endidikan telah mengidentifikasi perilaku guru yang
cenderung dikaitkan dengan tingginya tingkat belajar siswa. Guru efektif tahu
cara menggunakan perilaku ini dan untuk tujuan apa perilaku tersebut paling
sesuai. Terdapat tiga dimensi penting dari lingkungan pembelajaran yang
positif: kelas yang peduli, lingkungan fisik kelas, dan organisasi kelas
termasuk prosedur pengelompokan siswa untuk pengajaran dan pengelolaan waktu. (Forrest
W. Pakay, 2011:99)
Secara
umum prospek untuk meningkatkan prestasi terlihat bagus. Tentu saja, ada
tantangan utama, khususnya dalam lingkungan sosioekonomi dan sosiokultural yang
sulit. Tetapi, guru dapat membuat perbedaan, dan akan melakukannya jika mereka
mengikuti beberapa pedoman sederhana. Akhirnya kita dapat memulai
penjelasannya. Berikut, seperti yang dijanjikan, adalah empat kesamaan diantara
siswa:
1.
Tiap orang perlu menyelesaikan sesuatu
untuk diri sendiri.
2.
Pengalaman yang multi-indera, dramatis,
aneh, dan emosional akan diingat lebih lama dan lebih terinci daripada
pengalaman biasa dan rutin.
3.
Tiap orang perlu merasa terjamin secara
emosional dan aman secara psikologis.
4.
Siswa lebih termotivasi, terlibat, dan
terbuka ketika mereka dapat sedikit mengendalikan belajar mereka. (Paul Ginnis,
2008:20)
Untuk
mendukung pembentukan pola mental individual dari siswa, yang merupakan kunci
untuk pembentukan konsep dan pemahaman yang terinternalisasi, terdapat enam
pedoman:
1.
Dorong siswa untuk menemukan dan
mengerjakan hal-hal, untuk mereka sendiri
2.
Dorong siswa untuk menyampaikan “ide
kasar”
3.
Hanya ada sedikit nilai dalam pemberian
“makna siap saji” bagi siswa.
4.
Tiap pada konsep penting yang sama dari
sudut yang berbeda dalam cara yang berbeda.
5.
Sediakan umpan balik unteraktif yang
spesifik dan langsung
6.
Sela pembelajaraanya (Paul Ginnis,
2008:23-25)
2.
Pembelajaran
Kimia Inovatif
Dunia
pendidikan kita saat ini sedang banyak berbenah dalam segala aspek. Diharapkan
munculnya pedoman penyelenggaraan pendidikan yang baru yang namanya kurikulum
dapat membawa angin segar adanya perubahan ke arah peningkatan kualitas
pembelajaran. Sebagai pelaksana kurikulum pada tingkat pembelajaran, tentunya
perlu memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk dunia pendidikan saat ini.
Diantara yang harus dipikirkan adalah bagaimana proses pembelajaran yang
dilakukan dapat membawa siswa menjadi lebih termotivasi, bersemangat, dan
bergairah dalam belajar.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan bagi guru melakukan
pembaharuan dalam hal metode pembelajaran yang akan diterapkan di dalam kelas.
Pembaharuan di sini tidak selalu harus baru, tetapi yang lamapun dapat
dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga memunculkan metode pembelajaran yang
inovatif sekaligus memenuhi himbauan isu pendidikan internasional, yaitu
pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) dan bermakna (meaningful
learning). Perlu diingat, mengejar
kemajuan negara lain (bukan mengejar ketertinggalan) memang HARUS, tetapi
jangan lalu berdiri di awang-awang tanpa menginjak di bumi pertiwi sendiri.
Singkat kata, menciptakan metode pembelajaran yang inovatif HARUS kita lakukan,
tetapi harus tetap melihat kenyataan di lapangan. Ya ... melihat kemampuan kita
(akademis, waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain), juga ketersediaan sarana
prasarana dan fasilitas yang ada. (Das
Salirawati, 2008)
Nahadi dalam penelitiannya yang bertujuan mengugkapakn
tentang pengaruh media dalam peningkatan kualitas perkuliahan evaluasi
pembelajaran kimia mengambil kesimpulan atas penelitiannya tersebut yaitu
inovasi pembelajaran sangat diperlukan dalam peningkatan penguasaan mahasiswa
terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran Kimia Pembelajaran Inovatif
dengan menggunakan media petakonsep dan computer dapat meningkatkan prestasi
belajar mahasiswa.
Selain pemanfaatan media, model pembelajaran yang kreatif
juga bisa dilakukan dalam metode pembelajaran inovativ. Seperti penelitian yang
dilakukan Antonius Tri Widodo yang bertujuan memaksimalkan kompetensi siswa
dalam bidang kimia siswa kelas X SMA dengan pembelajaran yang menerapkan
penelitian sederhana menunjukkan bahwa pembelajaran kimia dengan pendekatan
penerapan penelitian sederhana dapat dilaksanakan di SMA tanpa menambah jam
pelajaran di kelas. Hasil pembelaajaran ternyata dapat mengoptimalkan hasil
belajar siswa bukan hanya pada aspek kognitif tetapi juga psikomotor dan
afeksi. Target perolehan hasil belajar kognitif, psikomotor dan afeksi
tercapai. Demikian juga jumlah siswa yang tuntas baik kognitif maupun
psikomotor juga tercapai. Di samping itu pembelajaran menjadi kondusif, siswa
aktif belajar bukan hanya di kelas, tetapi juga di laboratorium dan di
lingkungan. Dengan penerapan penelitian sederhana memungkinkan pemunculan
kreativitas siswa khususnya dalam memecahkan tugas-tugas yang diterimanya. Di
samping itu aktivitas siswa dalam belajar menjadi lebih baik karena mereka
bukan saja belajar di kelas dan laboratorium tetapi juga memanfaatkan
lingkungan sebagai sumber belajar untuk diamati dan diteliti.
Dalam penciptaan metode pembelajaran inovatif yang
terpenting adalah kemauan dan keinginan guru untuk membuat belajar menjadi
menarik untuk diikuti dan menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar. Selain
itu, adanya metode pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu mengubah image belajar sebagai suatu keterpaksaan
menjadi suatu kebutuhan, dengan cara membawa siswa menikmati sisi-sisi keindahan
dan kemenarikan dari suatu materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Hal ini
hanya dapat dilakukan bila guru memahami pentingnya menciptakan pembelajaran
bermakna dan menyenangkan (meaningful
learning dan joyful learning).
Sesuai dengan pendapat Ausubel (1991) bahwa belajar akan
bermakna jika mahasiswa dapat mengaitkan konsep yang dipelajari dengan konsep
yang sudah ada dalam struktur kognitifnya, dan pendapat Bruner (1991) yang
menyatakan belajar akan berhasil lebih baik jika selalu dihubungkan dengan
kehidupan orang yang sedang belajar (anak didik). Secara logika dapat dipahami,
bahwa kita pasti akan belajar serius bila isi dari yang dipelajari ada
kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari dan kata-kata atau kalimat yang
didengar sudah familiar di kepala
kita. Melalui metode pembelajaran yanng inovatif diharapkan ada perbaikan
praktik pembelajaran ke arah yang lebih baik. Perubahan ini tidak harus terjadi
secara draktis, perlahan-lahan tetapi pasti. Perbaikan pada proses sangat
penting agar keluaran yang dihasilkan benar-
3. Joyful Learning
Saat ini
di berbagai negara sedang trend dan semangat mengembangkan joyful learning, yaitu dengan menciptakan kondisi pembelajaran
sedemikian rupa sehingga siswa menjadi betah di kelas karena pembelajaran yang
dijalani menyenangkan. Mereka
merasakan bahwa pembelajaran yang dijalani memberikan perbedaan dalam basis
pengetahuan yang ada di pikirannya, berbeda dalam memandang dunia sekitar, dan
merasakan memperoleh sesuatu yang lebih dari apa yang telah dimilikinya selama
ini. Sebagai bangsa yang ingin maju dalam era globalisasi yang kompetitif ini
tentunya kita juga ingin merasakan pembelajaran yang demikian.
Semua mata pelajaran dapat dibuat menjadi
menyenangkan, tergantung bagaimana niat dan kemauan guru untuk menciptakannya.
Pembelajaran yang dikemas dalam situasi yang menyenangkan, jenaka, dan
menggelitik sangat diharapkan oleh mahasiswa saat ini yang sudah jenuh dengan
pembelajaran yang monoton dan membosankan. Penelitian terhadap beberapa
anak-anak sekolah di dunia yang diadakan UNESCO menunjukkan sebagian dari
mereka menginginkan belajar dengan situasi yang menyenangkan (Dedi Supriadi,
1999).
Pembelajaran menyenangkan artinya pembelajaran yang
interaktif dan atraktif, sehingga mahasiswa dapat memusatkan perhatian terhadap
pembelajaran yang sedang dijalaninya. Penelitian menunjukkan bahwa ketika
seorang dosen menguraikan dan menjelaskan suatu materi tanpa ada selingan dan
mahasiswa hanya mendengarkan, melihat, dan mencatat, maka perhatian dan
konsentrasi mereka akan menurun secara draktis setelah 20 menit. Keadaan ini
semakin parah jika dosen tidak menyadari dan pembelajaran hanya berjalan
monoton dan membosankan (Tjipto Utomo dan Kees Ruijter, 1994). Lebih lanjut
dikemukakan, keadaan ini dapat diatasi apabila dosen menyadari lalu mengubah
pembelajarannnya menjadi menyenangkan dengan cara memberi selingan aktivitas
atau humor. Tindakan ini secara signifikan berpengaruh meningkatkan kembali
perhatian dan konsentrasi mahasiswa yang relatif besar.
Pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang
membuat siswa tidak takut salah, ditertawakan, diremehkan, tertekan, tetapi
sebaliknya siswa berani berbuat dan mencoba, bertanya, mengemukakan pendapat /
gagasan, dan mempertanyakan gagasan orang lain. Menciptakan suasana yang
menyenangkan tidaklah sulit, karena kita hanya menciptakan pembelajaran yang
relaks (tidak tegang), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan,
mengaitkan materi ajar dengan kehidupan mereka, belajar dengan balutan humor,
dorongan semangat, dan pemberian jeda berpikir. Dalam belajar guru harus menyadari bahwa banyak kata ”aku
belum tahu” akan muncul dan kata ”aku tahu” sedikit muncul, karena mereka
memang dalam tahap belajar. Demikian pula guru harus menyadari bahwa otak
manusia bukanlah mesin yang dapat disuruh berpikir tanpa henti, sehingga perlu
pelemasan dan relaksasi.
Seperti diketahui, otak kita terbagi menjadi dua bagian,
yaitu kanan dan kiri. Terkadang
dalam dunia pendidikan kita lupa akan pentingnya mengembangkan otak sebelah
kanan. Secara umum hanya otak kiri yang menjadi sasaran pengembangan, terutama
untuk ilmu eksakta. Otak sebelah kanan adalah bagian yang berkaitan dengan
imajinasi, estetika, intuisi, irama, musik, gambar, seni. Sebaliknya otak
sebelah kiri berkaitan dengan logika, rasio, penalaran, kata-kata, matematika,
dan urutan. Untuk menepis hal itu, sebenarnya kita dapat tunjukkan bahwa ilmu
apapun mampu digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan otak sebelah kanan,
diantaranya dengan cara memahami dan menghafal konsep melalui puisi, lagu,
maupun teka-teki.
Otak kita adalah bagian tubuh yang paling rawan dan
sensitif. Secara umum otak manusia sangat menyukai hal-hal yang bersifat tidak
masuk akal, ekstrim, penuh warna, lucu, multisensorik, gambar 3 dimensi
(hidup), asosiasi, imajinasi, simbol, melibatkan irama / musik, dan nomor /
urutan. Berdasarkan hal ini, maka kita sebagai pendidik dapat merancang apa
yang sebaiknya kita berikan kepada mahasiswa agar otak mereka menyukainya.
Berikut beberapa contoh joyful Learning yang dapat diterapkan. Salah satunya yaitu menggunakan
media internet. Banyak alamat website yang menyajikan game kimia interaktif
yang sangat menarik baik bagi siswa maupun guru. Salah satu contoh alamat
website tersebut adalah http://www.creative-chemistry.org.uk/
Contoh
lain yang dapat diterapkan yaitu dengan mengganti lirik lagu dengan materi kimia. Seperti yang
dilakukan salah satu dosen jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY, Ibu Dr. Das
Salirawati, M.Si.
ZAT RADIOAKTIF
Aku yang pancarkan sinar
Aku yang tlah kau
temukan
Sebagai radioaktif
yang mampu bersinar terang
Sinar a, sinar b
Sinar g ada juga
Termasuk sinar yang dapat dipancarkan oleh kita
Sinarku mampu
tembus lempengmu
Sinarku tuk sinari
tubuhmu...
Hu ...hu ...
(sinarku kan dapat sinari tubuhmu)
Bila a yang dipancarkan
Ada 4 massa yang hilang
Bila b yang dipancarkan
Ada 1 massa yang hilang
Namun bila g yang hilang
Tak mungkin kan ada yang hilang
Karna muatan g netral
Shingga tak mengubah di susunan.....
Created by: Das Salirawati
Tag :
Pendidikan Kimia,
Teori Pendidikan
5 Komentar untuk "JOYFUL LEARNING DENGAN METODE PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN BERBASIS KEMAMPUAN OTAK"
buku tentang joyful learning ada gg y? pengarang dan judulnya apa? mohon bantuannya
Terimakasih sudah berkunjung keblog saya sebelumnya ,,,Coba pake ini mb, ini dasar teori yang saya pake buat nulis makalah ini. :)
Salirawati, Das. 2008. Metode Pembelajaran Inovatif Sebagai Magnet Belajar. Makalah disampaikan dalam rangka Lokakarya Metode Pembelajaran Inovatif dan Sistem Penilaiannya, Program Hibah Kompetisi (PHK) A-2 Jurdik Kimia FMIPA UNY, Jum’at, 24 Oktober 2008.
Willis, Judy. 2011. Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak. Terj. Research-Based Strategies to Ignite Student Learning oleh Akhmal Hadrian. Yogyakarta: Mitra Media.
Das Salirawati dan Sukardjo. (2008). Pembelajaran Sains (IPA) Terpadu yang Kreatif dan Menyenangkan. Makalah Seminar Nasional Pendidikan Sains di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta : FMIPA UNY.
Sutiman dan Eli Rohaeti. (2011). Diktat Kuliah Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
Postingan yang bagus. Filenya di kirim ke email sy dong kak. Ini email sya mardiana.marhadi@yahoo.com
terimakasih sebelumnya.
TErimkasih ilmunya. Kak kalau diperkenankan saya ingin meminta daftar pustaka artikel ibu Das salirawati yang judulnya " siapa bilang kimia itu sulit" terimakasih.
postingan yang bagus. sangat bermanfaat.
mohon share filenya ke mediprasetia@gmail.com
terimakasih
Berkomentarlah dengan baik dan sopan, saya akan berusaha untuk menjawab setiap pertanyaan dan menanggapi setiap komentar yang anda berikan, :)
Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya :)